Selasa, 24 Januari 2012

CARA MEMBUAT BIVAK

salam pramuka ....

secara sederhana definisi bivak adalah salah satu tempat tinggal sederha di alam bebas dan terikat pada suatu waktu tertentu . hampir sama  definisinya dengan tempat Tinggal ( Rumah) namun disini yang membedakan adalah waktu , dimana bivak hanya di gunakan dalam kurun waktu yang sangat singkat .

 adalah Tujuan pembuatan bivak adalah sebagai tempat perlindungan yang nyaman untuk melindungi diri kita dari faktor alam dan lingkungan yang ekstrim.

biasanya bivak banyak digunakan oleh para pecinta alam , pramuka yang sedang melakukan latihan survival dan para pengelana alam .menurut N.S. Adiyuwono, seorang penggiat alam terbuka, bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.

dan beberapa hal yang penting dan harus di perhatikan dalam pembuatan bivak adalah :
. Kondisi medan
- tempat harus datar / rata / enak buat tidur
- bukan merupakan jalan hewan,manusia atau air
- jangan di bawah pohon yang sudah tua/lapuk atau di bawah tebing yang labil serta jangan terlalu merusak alam sekitar
- dekat dengan sumber air, bukan sarang nyamuk / serangga juga tanaman busuk karena tempat itu tidak sehat dan kurang aman
- aman dari ancaman hewan atau keganasan alam (banjir, lahar,longsor)
antisipasi : buat parit di sekeliling bivak, tebarkan garam, buat api unggun dll.

yups semoga artikel ini bermafaat bagi yang membaca . 

SEJARAH PENDIRIAN YPPIS


Oleh
KH.Muhammad Holid
Awalnya pesantren Salafiyah dikenal dengan pesantren Nurul Huda. Secara bahasa, Nurul Huda berarti cahaya petunjuk. Nurul Huda sendiri sudah berdiri sejak tahun 1960 di bawah asuhan seorang kyai lulusan pesantren Sukorejo Asembagus Situbondo Jawa Timur. Sarji namanya. Ketika naik haji, sang kyai mendapat gelar haji Abu Zairi namun orang di desanya lebih mengenal dengan sebutan Sarji. Nama haji ini diambil dari kebiasaan sang kyai yang memang suka jalan. Abu Zairi sendiri artinya ayahnya perjalanan. Memang kebiasaan sang kyai selalu jalan ke berbagai tempat dalam rangka tirakat untuk mendapatkan petunjuk Allah. Pernah di awal memimpin pesantren, ketika santri masih sekitar sepuluh orang, kyai tidak pulang ke rumah selama dua tahun untuk laku tirakat. Ketika pulang, sang kyai sudah jadab kata orang. Di masyarakat Pakisan, sang kyai dikenal kalau hari jum’atan sering ada di dua tempat sekaligus. Dengan kata lain, sang kyai bisa memecah badan. Entah dimana yang asli, orang-orang tidak mengetahuinya. Pernah kyai Abu Zairi di saat jadab-nya,[1] sering ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang mempunyai toko. Karena toko yang dihampiri oleh kyai akan laku keras dan barang dagangannya akan segera habis. Apalagi sang kyai sampai meludah di toko yang dihampiri, maka dengan segera toko itu akan dibeli sampai habis barang dagangannya. Sehingga ada seorang cina waktu itu pernah memberikan dua putrinya untuk dikawini oleh sang kyai. Namun sang kyai mencerainya ketika sudah kembali seperti sedia kala.
Konon, sang kyai menjadi jadab karena pulang dari laku tirakatnya setelah mendapatkan wejangan dari sang guru. Sang guru memerintahkan kyai Abu Zairi untuk melaksanakan tirakat di Wali Sanga dan tidak boleh pulang kalau belum diwejang oleh sang sunan. Tentu laku tirakat ini membutuhkan waktu dan proses yang lama. Masyarakat sampai membenci kyai ini karena meninggalkan anak istrinya. Istri pun meninggal beserta anak yang dikandungnya. Sementara sang kyai belum pulang ke rumah. Nampaknya sikap kyai yang taat kepada gurunya itu membuahkan hasil walaupun istri dan anaknya menjadi korban. Dirinya pun tidak pernah dipikirkan demi melaksanakan perintah sang guru.
Ternyata perngorbanan sang kyai tidak sia-sia. Ia menjadi orang yang berhasil dalam laku tirakat sampai menjadi orang yang tidak ingat akan siapapun kecuali kepada tuhannya. Hasil dari laku tirakatnya berupa kepasrahan total kepada sang kholik. Apa yang dilakukan menjadi perbuatan sang kholik. Orang menyebutnya dengan zindik. Sebagian lagi menyebutnya sebagai hamba yang sudah manunggaling kawula gusti.[2] Yakni orang yang sudah menyatu dengan tuhannya.
Penyatuan ini membawa berkah. Semakin hari semakin banyak orang yang meminta pertolongan sang kyai baik orang-orang yang membutuhkan pengobatan maupun orang-orang yang membutuhkan syarat agar dimudahkan dalam urusan ekonomi. Orang yang lumpuh begitu datang kepada kyai langsung sembuh hanya dengan sentuhan tangan sang kyai. Orang yang mempunyai kesulitan ekonomi bisa keluar dari kebuntuan ekonominya dengan mendatangi dan ngalap berkah sang kyai. Namun itu semua bukan harapan dari kyai. Harapan kyai lebih besar dari itu semua. Kyai berharap bagaimana agar dirinya tidak hanya menyelamatkan manusia di kehidupan dunia, melainkan juga menyelamatkan manusia di akhirat nanti. Dan menolong orang dari kehidupan dunia dan akhirat bisa dilakukan apabila seseorang telah mencapai tingkatan mursid. Dengan ketekunan luar biasa dalam menjalani laku tirakat, kyai Abu Zairi mencapai tingkatan itu.
Banyak orang berdatangan kepada kyai untuk berguru mursyid. Kyai pun membikin pengajian jum’at manisan untuk menampung santri-santri yang ingin berguru mursid ini. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk berguru kepada sang kyai. Namun perguruan yang diasuh oleh sang kyai seringkali mendapatkan ujian yang berat. Berbagai macam fitnah muncul dari masyarakat sekitar. Kyai dituduh sebagai orang yang membawa aliran sesat. Saudara-saudara dan tetangga sekitar juga tidak suka dengan keberadaan perguruan itu. Mereka semua menganggap aliran yang dibawa kyai sebagai aliran baru dalam agama. Ada pula ketidaksetujuan mereka karena iri dan dengki. Kyai seringkali disepelekan oleh orang sekitar dan dicaci sebagai kyai tidak benar. Karena kyai tidak pernah sholat jum’at di masjid dan sebagainya.
Kebencian masyarakat sekitar tidak berhenti di situ. Mereka pernah membakar pesantren kyai. Rumah sang kyai juga dibakar. Anehnya, lagi-lagi allah menampakkan kekuasaannya, ada sorban kyai yang tidak terbakar api dan kain yang dibalut oleh surban itu juga tidak terbakar. Sorban itu kemudian hari dinamai salimi yang dianggap keramat oleh pengikutnya. Orang-orang percaya bahwa salimi itu dapat membawa keselamatan.
Menurut pengakuan sang kyai sendiri kepada penulis, kebencian masyarakat sekitar kepada beliau akibat persoalan politik. Waktu itu sekitar tahun 1970. Kyai ikut partai P3 karena diperintah oleh sang guru yakni kyai As’ad Samsul Arifin Sukorejo. Beliau membela partai ini karena semata-mata perintah sang guru. Sedangkan masyarakat sekitar berbeda pandangan dengan sang kyai. Mereka masuk partai bukan karena perintah sang guru tapi demi uang. Kemudian ada insiden kecil yang menyebabkan sang kyai dipenjara. Di dalam penjara, tak satupun orang partai mengunjunginya. Peristiwa ini membuat beliau kecewa dan membuat kyai tidak mau berkecimpung lagi dalam politik hingga akhir hayatnya.
Semenjak pembakaran pondok oleh masyarakat itu, kyai berniat tidak mau membuka pondok lagi. Kyai kemudian membeli angkot dan menjadi supir angkot jurusan Pakisan-Bondowoso. Namun kyai sendiri rupanya tidak bisa menolak takdir. Tak lama kemudian ada tiga orang santri datang ingin nyantri kepada kyai. Dengan kedatangan tiga santri ini, kyai membuka kembali pondok pesantren yang kemudian diberi nama pesantren Islam salafiyah.
Secara bahasa, salafiyah berarti orang yang mendahului kita.[3] Dengan pengertian semacam ini, ulama-ulama atau orang tua kita yang telah meninggal terlebih dahulu adalah salaf. Namun arti salaf yang dimaksudkan dalam penamaan pesantren ini mengacu kepada ulama salaf. Ulama yang disebut sebagai ulama salaf adalah ulama yang mengikuti prilaku nabi dan para sahabatnya. Keikutan ulama-ulama terhadap para sahabat itu menyangkut beberapa hal, diantaranya kesungguhannya dalam menuntut ilmu, kezuhudannya terhadap dunia dan perjuangannya di dalam menegakkan kebenaran dan agama Allah. Dengan demikian, penamaan itu terkait dengan cita-cita sang kyai yang Sangat tinggi untuk mencetak santri menjadi orang kuat dalam menuntut ilmu, zuhud terhadap dunia dan gigih dalam berjuang di jalan Allah.
Seringkali orang salah mengartikan zuhud. Banyak orang beranggapan bahwa zuhud merupakan penghindaran diri secara total terhadap dunia. Padahal zuhud itu sendiri tidak identik dengan tidak punya dunia (uang).[4] Menurut K. Afif, zuhud adalah tidak suka dan tidak cinta dengan dunia. Walaupun dunia banyak mengalir di tangannya, ketika ada orang yang membutuhkan, maka dunia itu akan diberikan kepada orang yang membutuhkan itu. Karena dirinya tidak cinta dengan dunia. Dengan demikian, belum tentu orang tidak punya harta (miskin) itu zuhud dan belum tentu pula orang yang kaya itu tidak zuhud. Selama dunia atau harta tidak melekat di hatinya, maka orang itu bisa disebut sebagai orang zuhud.
Pesantren Salafiyah Pakisan bercita-cita santrinya menjadi orang-orang yang berjiwa salaf itu. Apalagi di depan nama salafiyah itu ditambahkan dengan label Islam, maka lengkap sudah cita-cita kyai Abu Zairi untuk menciptakan generasi yang punya kepasrahan total dan keyakinan yang kuat kepada Allah serta jiwa perjuangan untuk selalu membela kaum lemah. Cita-cita semacam ini menjadi cita-cita yang sekali dayung dua tiga pula terlampui. Kepasrahan total kepada Allah mencerminkan kesalehan ritual. Sedangkan perjuangan membela kaum lemah mencerminkan kesalehan sosial.[5]
Dengan cita-cita salaf itu, kyai Abu Zairi terus membina dan menapak sedikit demi sedikit pesantren Islam Salafiyah ini. Untuk menguatkan posisi pesantren, pesantren diaktenotariskan dengan nama yayasan pondok pesantren islam ”salafiyah”. Pembuatan akte notaris tercatat tanggal 28 maret 1985 dengan nomor 16. Yayasan mempunyai keanggotaan yang terdiri dari jemaah Ikhwan yang berguru mursyid kepada kyai. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. Bahkan ada pula jemaah berasal dari negeri jiran, Malaysia. Ketuanya adalah H. Nur Rais dari Situbondo. Wakil yayasan adalah H. Abd. Rasyid dari Situbondo. Pengasuhnya adalah KH. Abu Zairi sendiri. Wakil pengasuh juga diserahkan kepada H. Abd Rasyid.
Pada tanggal 30 Agustus 2006, kyai Abu Zairi meninggal dunia. Beliau meninggalkan dua istri, dua putra dan dua putri, serta satu putri angkat dari istri yang terakhir. Beliau meninggal karena serangan jantung. Di samping itu, penyakit kencing manis dan darah tinggi juga mengjangkiti beliau. Beliau meninggal di rumah sakit Patrang (Dr. Soebandi) Jember. Sepeninggal beliau, pesantren diserahkan kepada putrinya Nyi Bahdatul Nur Laili, Spdi dan suaminya, Lora Muhammad Holid, M.Hum.

MASALAH DAN PEMECAHANNYA

Terkadang kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disekitar kita ,kadang kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita menyikapi semua hal yang terlintas dalam kehidupan sehari - hari kita .yang lebih tidak tahu lagi ,kadang kita sering salah dalam menghadapi kejadian yang sedang berlangsung.

dalam menghadapi masalah ,terkadang kita terlalu terfokus dalam masalah yang kita hadapi dan terkadang kita hanyut terbuai dalam masalah yang kita hadapai itu .sehingga muncul sifat - sifat Negatif dalam diri kita seperti ",sifat marah ,stress,frustasi ,dan lain - lain dan bisa juga berujung pada kematian ,iya kan contohnya saja dalam kehidupan sehari - hari banyak kasus orang bunuh diri akibat permasalahan tertentu .

dalam kondisi tersebut terkadang kita sangat jarang untuk berfikir dan merenungkan jalan pemecahan masalah pada hal tersebut ,padahal itu sangat penting dalam memecahkan masalah yang kita hadapi , masak kita mau mundur selangkah pun dari masalah tersebut sama saja dengan kita sebagai pecundang .

ada banyak jalan untuk memecahkan masalah - masalah yang sering menimpah kita ,Guru saya pernah bilang"kunci dari segalanya adalah bersabar ." ya benar karna dengan sabar fikiran kita akan jernih dan otak kita akan lebih sempurnah dalam memikirkan cara jalan keluarnya .

sudah kita bersabar saatnya kita memikirkan tindakan yang harus kita lakukan , ya anggap aja ini startegy kita untuk bisa agar cepat keluar dari masalah yang membelit pada diri kita . dan juga harus di ingat dalam menyelesaikannya jangan sekali - kali dengan amarah,emosi karna Rosulullah SAW sering mengiatkan ummatnya  untuk tidak memiliki perasaan tersebut karena sifat itu adalah sifat setan , emang mau kita di anggap setan toh ....!

lah langkah selanjutnya yaitu hadapi masalah yang menimpah kita dengan senyum , inget syair DeWA 19 "hadapi dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi hadapi dengan tenang jiwa ....." lok sudah kita lakukan semua itu ,kita kembali lagi kepada allah  , kita bilang kepada Allah terserah mau pakai bahasa apapun mau bahasa ,ingris ,jerman ,bahkan indonesia wong Allah maha pintar kita bilang " ya Allah kaulah Tuhan ku aku pasrahkan semua urusan ku pada mu " ya kita harus Tawakal pada Allah dan pasrah kepadanya bahwa ia akan memberikan jalan keluar bagi kita .

insyallah jika semua langkah - langkah di atas dilaksanakan mungkin sebesar apapun pasti kita akan berhasil memecahkan masalah tersebut . soooo jangan takut lagi pada masalah dan harus di ingat jangan sampai kita melibatkan orang lain dalam masalah yang kita hadap ,baru kalau tidak sanggup kita boleh meminta pertolongan mereka ....

yups salam Pramuka .... jayalah pramuka indonesia.

Senin, 23 Januari 2012

PROFILE YPPIS

Salafiyah Hidayatullah Islamic boarding, Pakistan, located in the eastern city Bondowoso. Precisely in the village of Pakistan, Tlogosari district, East Java Bondowoso. People are more familiar with this area with Pakisan. Because once in this area, many fern plants grow. Then the local people named this area with Pakisan. Pakisan area is a mountainous area with enough cool air. Rainfall was also high. Distance Pakisan with Bondowoso city, when reached by the vehicle speed of 60 km / hour, takes about 30-45 minutes. And if the calculated distance, with the city Bondowoso Pakisan boarding school located about 17 kilometers.Pesantren Salafiyah standing on the ground foundation of ± 2 hectares. Above ground, there are three buildings used for residential students well students sons and daughters of the overall students students living in boarding complex. For students complexes son, there are two buildings. The first two-storey building currently occupied. The second, two-story building that is still in the stage of completion. For the first two-story building, the bottom is for junior high level students (junior high). While building the upper level is for students Aliyah (SMU). The purpose of this separation is to train and maintain the independence of equality among students. So that egalitarian attitudes could be created because an equivalent position in between them.But in each room students, there is one companion named chairman of the room. This room serves as Chairman of murabbi. It means nurturing murabbi is a person who in all things, including how to dress well and good beraklakul Karimah. Both beraklakul Karimah among fellow friends and berahlakul Karimah with the almighty. Room as the chair of the task murabbi not an easy task. Because of the good and bad depending on the child's room as well as chairman of the rooms of this murabbi. In another sense, chairman of the rooms is a nanny kepanjangantangan boarding. Whereas, the caregiver can not pesantren any time supervise and provide models to individual students as a whole. The caregiver can only give an example globally. Due to the boarding of the most important thing is setting the example. Without a good example of the old, the younger one will act arbitrarily. In turn, ketauladanan become a staple in the teachings salafiyah.The number of men students in each room varies. Some are composed of seventeen children and there are also rooms of more than seventeen. The amount that is not feasible according to health standards, said one of the health department who've been to boarding a time. But this step is still taken. Because the funds that exist and are owned by the pesantren has not been possible to construct a new building. Pesantren itself does not have a fixed income beyond dues that you could sustain boarding students. Contributions own students more than the rest is minus. In addition to late payment, many students who become dependents schools. Because of all this, boarding took about thirty people eat every day.In addition, the number of students is increasingly rising and many students who come mainly from outside the city. And increasing the number of students who are not accompanied by an increased number of rooms as well. Number of rooms still amounted to eight rooms with a size of 4X6 meters. So many students are sleeping in mosques and in the classroom.To place students princess, there are two-storey building with a room number as many as eight rooms. Each room measuring 5x5 meters square. By that measure, the room filled with as many as fifteen children. There are more than fifteen. This number, again according to the people from the health department, an amount that does not meet health standards (ideal). But again, this step was taken, considering boarding schools do not have enough funds to purchase a parcel of land being offered by people around boarding schools for the expansion of the cottage. While the increase in women students outnumber men than on the number of students each year. As a result, many students affected by asthma. A doctor who frequently check the health of students indicated that the building dedication to the cause.As for the building which is used as the venue for formal education, boarding schools provide four to junior secondary and office space, four for Aliyah and office space, a library, a room English Language Self Access Lab, a computer lab space, a multipurpose room (hall) , a health clinic room and one room for Islamic Boarding School Foundation office (YPPI). All that space for a while still allowing for the use. Although here and there needs to be some improvement because of the condition of the building was much damaged. In particular, junior high classrooms need to direhap total. The wood frame and the window was badly damaged. For further college classes, while these schools are still lend Aliyah classrooms to be a place. In addition, the mosque became the center of religious facilities students are in front of the Foundation's office and in front of the boarding house sitter. Mosque of pesantren is still in the stage of renovation.The overall number of 244 students students students with details of 132 people 112 people for the sons and daughters of students. Students-students were mostly from Bondowoso own. Students who come from outside Bondowoso in the number of percentage amounted to 40%. Most students who come from outside Bondowoso Sampang-Madura, Jember, Malang, Probolinggo, Surabaya, Central Java (holy), Situbondo, Banyuwangi, Bali and Lombok.The daily activities of studentsStudents in their daily activities divided into two kinds of activities. The first formal activities and the second is an informal activity. Formal means formal and recognized by the state. While the informal is unofficial and not recognized by the state. Recognized is ijasahnya. And sometimes it's official and unofficial bring a disparate impact to the spirit of learning students. Students are more oriented to formal education. Given ijasahnya can be used to pursue higher education outside the schools. While boarding school diploma is not recognized by the state deemed to be of much use to students when going to continue their education outside of schools.Formal activities undertaken at the agency junior secondary students, Aliyah and Universities. While students are informal events held outside the time-time formal education. There are several forms of informal activities. They include carpentry and building, art, computer courses, sewing skills, gastronomic, and plantations. For art, pesentren has several facilities that support students both sons and daughters to develop talent in the arts. For example art marching band, tambourine, harp, and martial arts. Art is often invited to perform and even out of town are the bands and the lute. In addition, schools are also developing in the field plantation of ornamental plants. This effort aims to train students love the environment and have skills in farming. It is expected that students after returning to the community have diverse skills to navigate life in the stock.For informal activities which are religious students, the activities students are also diverse and dense. In the morning after dawn, all students follow the yellow book with the recitation of each ability level. In the mosque, recitals reserved for students who already Aliyah. Junior high students basic training in the yellow book learning in the classroom to the mosque for his son and daughter. That has not been able to follow the yellow book study, emphasized to deepen readings of the Koran. Because the ability to read the Qur'an is the benchmark for assessing a community in students. Is it serious students studying in boarding schools or not. If students can not read the Koran, the public will judge the students have not been successful in studying in boarding schools. For the yellow book, people are not too bothered. Because students also have different objectives in studying at the seminary. There are students who just want to know read the Koran and religious knowledge that is used for himself. There are more students who want to spread the knowledge gained in the cabin to the public. This last goal requires students to equip themselves with all kinds of knowledge. Given the needs of the community also vary.Informal activities stopped after dawn until sunrise and students get ready for formal schooling. Made of formal schooling at 07.00, am till 02:00, evening. After that, students attend resting in preparation for reviewing the Koran along for an hour at the mosque after Asr prayers congregation. After evening prayers the congregation, all students are required to recite the Koran along with accompanied by a more senior students. This activity was ended by the evening prayer congregation '. After evening prayers', all senior students and Aliyah are required to attend lectures at the mosque in Jalalain sorogan which was read directly by caregivers boarding K. Holid Muhammad, S. Ag, M. Hum. For junior high students, those who follow the teaching in the classes as plural carried out at dawn. Students in an informal activity is performed in a continuous cycle until the holidays arrive fasting month.Beyond the informal and formal activities above, students in the evening Tuesday and Friday gathered in front of the office space Tsanawiyah to watch TV together. This activity is done to reduce the saturation of tired students who follow a hectic schedule. This activity is also intended to provide information to students about the developments in the world. For daily information, students can access the paper and the compass heading is provided by the Javanese pesantren. Students can also access information through the available books in the library schools. For a time, all the books donated by the government and purchases together in one place ie Salafiyah Hidayatullah pesantren library. To purchase books, boarding schools allocate two hundred thousand dollars every month. This allocation is actually too small for the library. But the funds owned by the pesantren is still very limited.

VIDEO KEGIATAN PEMBUATAN PIONERING

assalamualaikum ..............
salam pramuka ...
pada kesempatan kali ini kami akan menampilkan video tentang skil pembuatan pionering . dan pada kesematan kali ini yang berperan dalam pembuatan tersebut adalah Pramuka dari Mts Hidayatullah . dan pionering ini merupakan pionering yang tinggi khusus orang dewasa karena ketinggiannya kurang lebih sekitar 10 meter . hemmmm monggo silahkan menyaksikan .

VIDEO ADVENTURE GUNUNG SULEK LATIHAN HIKING

assalamualaikum ....
salam pramuka .............................................
video ini adalah salah satu video latihan hiking di pegunungan sulek yang terletak di daerah Sulek Tlogosari Bondowoso . dalam video ini kami sangat minta maaf karena videonya tidak begitu jelas dan resolusinya tidak bagus ..... maklum waktu syuting film heheheh .... kameranya pakai Hp nokia punya kak munif ( pembina pramuka waktu itu )  . tapi meski jelekkk ... video ini sangat berharga bagi kita hehehehhe. maklum anak santri bawa hp bagus aja masih ilegal ...